You



Hey, hello, sorry
I don’t know how to begin
I don’t know what to say
But, let me try

You know you’re in love
When you see the world in his eyes
And his eyes is everywhere in this world
That’s what they said

But when I see your eyes
You become my world
Your eyesight pierce my soul
And stop right inside my heart

When you smile
I feel calm, peaceful, and happy
Your smile makes me smile
And I like it

I get so happy
Every time I think of you
I don’t know you
But I love you?

^-^

Kamu

Hai, halo, maaf
Aku tidak tau bagaimana memulainya
Aku tidak tau harus berkata apa
Tapi, biarkan aku mencoba

Kau tau kau sedang jatuh cinta
Saat kau melihat dunia di matanya
Dan matanya ada dimanapun di dunia
Itu yang mereka bilang

Tapi saat aku melihat kedalam matamu
Kau menjadi duniaku
Tatapanmu menembus jiwaku
Dan berhenti tepat di jantungku

Saat kau tersenyum
Aku merasa tenang, damai, dan bahagia
Senyummu membuatku tersenyum
Dan aku menyukainya

Aku jadi sangat bahagia
Setiap aku memikirkanmu
Aku tidak mengenalmu
Tapi aku mencintaimu ?

^-^

Cinta Pada Pandangan Pertama ?

Hari Selasa, 29 Desember 2015. Hari yang ingin selalu aku ingat. Hari yang membuatku tersenyum bahagia dan kadang berasa aneh. Jadi, aku pengen nulis momen ini di blog agar bisa aku ingat terus.
Aku sedang ada di sebuah mall bersama kedua adikku, Karen dan Nelson juga kedua sepupuku, Cecil dan James. Kami pergi ke TimeZone (Sebuah tempat permainan). Disana kami bermain macam-macam mainan yang seru dan mendapat banyak tiket yang bisa ditukar dengan hadiah.
Tapi tiba-tiba aku melihat seorang anak kecil yang tangannya dipenuhi darah. Dia mimisan. Karena aku juga sering mimisan, aku jadi ingin menolong. Belum sempat aku menolong, dia menghampiri seorang cowo. Dag.. Dig.. Dug.. Rasanya aku bisa merasakan detak jantungku. Oke, juju raja cowo ini keren, kece, dan kelihatannya sih baik. Nb : Kelihatannya dia juga blester, muka bule gitu. :v
Cowo itu langsung membawa anak kecil itu pergi. Dia meninggalkan permainannya yang belum selesai. Permainan basket (wow, anak basket). Tiba-tiba, James, Karen dan Nelson memainkan (melanjutkan) permainan cowo itu.
Ughhh… Rasanya aneh. Aku langsung bilang ke Cecil kalau aku merasa gak enak mereka memainkan permainan cowo itu yang belum selesai. Belum lagi ada tiket milik cowo itu yang ditinggalkan begitu saja. Jadi, aku dan Cecil pergi mencari cowo itu. Menurut pengalaman pribadi, jelas cowo itu akan pergi ke toilet.
Dan, yak. Saya benar sekali. Saat aku baru berbelok dari lorong ke kamar mandi, cowo itu dan ank kecil itu keluar dari toilet. Refleks, aku langsung berbalik. Mau mati rasanya menahan jantungku yang mau meledak. Rasanya bingung banget harus bilang apa ke dia dan gimana cara memulai percakapan. Aku gak mau membuat kesan yang buruk karena banyak orang langsung meilaiku negative saat bertemu.
Cecil hanya tersenyum melihat tingkah bodohku. Dia keluar dari lorong. Berfikir cepat! Aku langsung menghentikannya. “Sorry.” Kata pertama yang aku ucapkan. “kamu yang tadi main basket ya?” dia melihatku dan menjawab “iya” aku lupa dia senyum atau nggak. Sejenak aku melihat Cecil yang juga sedang melihatku. Senyum aneh muncul di wajahku. “Um… permainannya dimainin sama sodara-sodara aku. Maaf ya.” Dug.. dug.. dug… mau copot jantungku.
Tapi lalu dia bilang “oh, iya gakpapa kok.” Langsung aku berfikir CARI TOPIK LAGI! Spontan “Oke. Ini adiknya gakpapa?” Dia senyum OMG! “Iya. Tadi dia mimisan.” “Ohh…” Cuma itu yang bisa aku bilang! Sial, aku bisa aja nasehatin biar adeknya gak mimisan, Tanya nama, apapun! Tapi aku malah diem. Bodo! Bodo! Bodo! Aku sama sekali gak mikirin kalau mungkin aku gak akan bisa ketemu sama dia lagi!
Setelah balik ke TimeZone, aku mengambil tiket cowo itu dan menghampirinya. Dia sedang bersama dengan beberapa temannya mungkin? Pokoknya bersama beberapa laki-laki lain, kelihatannya sih lebih tua daripada cowo itu. Dan lagi-lagi aku bertingkah bodoh. Dan kata “Sorry” keluar lagi dari mulutku! Dia menerima tiket itu dan tersenyum sambil berterimakasih. Awww…
Akhirnya selesailah pertemuanku sama dia. Yah, kadang sambil main aku sambil liatin dia main basket sih. Atau dia main sama adeknya. Pokoknya liatin dia gitu. Mana si Cecil sama Karen malah berusaha ngambil foto dia lagi. Dia jadi kadang ngeliat ke arah kami. Kan rasanya jadi aneh, jangan-jangan dia berfikir aku aneh?! Ughh… Ntahlah apa yang dia pikirin tentang aku.
Setelah itu aku, Karen, Cecil, Nelson, dan James pergi ke supermarket. Saat sednag menyegel tas (aturan supermarket), James bilang kalau tas Nelson ketinggalan di TimeZone. Spontan aku langsung lari ke TimeZone. Capek banget rasanya. TimeZone dan supermarket itu beda lantai, dan jaraknya juga lumayan jauh. Meski pakai escalator, tetep aja capek.
Disana, ada dia (alasan lain aku datang) lagi menukar tiket sama teman-temanya. Tapi, aku langsung pergi ke tempat Nelson meninggalkan tasnya. Untunglah, tas itu masih ada dan tidak ada yang mengambil. Langsung aku ambil tas itu dan aku peluk dengan sangat erat. Barulah berasa kelelahanku berlari dengan sangat buru-buru.
Lagi-lagi mata nakalku melihat ke arahnya. OMG OMG OMG. Dia melihatku! Aku bingung dan aku hanya terdiam saja sambil memeluk tas seperti orang bodoh. Dan lalu, dia tersenyum. Yaampun, manisnya… Aku langsung membalas senyumnya. Dan lagi-lagi aku bertindak bodoh. Aku malah langsung berbelok ke arah keluar TimeZone.
Nelson baru sampai di TimeZone. Aku langsung memberikan tas itu padanya. Dan aku secara otomatis dan karena salah tingkah. Aku bilang “Fak ya!” Mungkin agak keras, ntahlah. Semoga cowo itu gak dengar. Semoga semoga semoga. Aku dan Nelson langsung pergi meninggalkan TimeZone. Aku gak berani lagi melihatnya. Aku langsung kabur gak melihat ke belakang. Selesai pertemuanku dengannya dan menyukainya tanpa mengenal namanya.
Kupikir aku akan bisa melupakannya. Tapi aku salah besar dan aku benar-benar tidak bisa melupakannya. Dia malah datang ke dalam mimpiku dengan senyumannya ya menenangkan.  Dan sampai sekarang, 5 Maret 2016… Dia datang ke mimpiku sebanyak 3 kali! Gila.
Pertama, aku melihatnya sekilas dengan sweater hitam yang dia pakai saat aku bertemu dengannya. Dia berdiri, dan tersenyum. Tapi lalu aku kabur, aku sadar itu dia. Tapi ntah bagaimana aku pergi.
Kedua, aku dan seorang cowo gandengan dan rasanya kayak kita pacaran. Aku sekilas melihat mukannya. Tapi aku gak yakin, aku hanya tau kalau itu dia. Dia nggandeng aku. Sweet.
Ketiga, aku chatting sama dia. Dia bilang kalau rumahnya ada di depan sekolahnya. Ntah gimana aku lalu datang ke sekolahnya dengan supriku. Aku melihat ada beberapa anak keluar, dan lalu ada seorang anak yang kelihatannya blester. Dia bukan anak yang mimisan. Tapi ntah gimana aku tau kalau anak kecil itu adik dari cowo itu. Terus aku menunggu cowo itu keluar. Belum aku melihat wajahnya, supirku menjalankan mobil meninggalkan sekolah itu. Mimpiku masih berlanjut, tapi gak penting. Aku tidak berhasil melihatnya.
Lebih anehnya lagi, sekarang aku gak inget wajahnya. Tapi aku yakin, saat aku ketemu dia, aku tau itu dia. Dan aku berharap pertemuan aku dan dia yang kedua akan lebih baik. Ntah kapan, biar Tuhan yang memutuskan. Tapi sekarang, aku hanya bisa mikirin dia, dia, dan dia. Seorang cowo yang sama sekali gak aku kenal. Seorang cowo dengan senyuman yang super manis dan menenangkan. <3

Yeay.... Oke, sekian artikel ini. Ini beneran loh, bukan fiktif. Aetikel ini juga sama sekali gak bermaksud nyinggung siapapun. Ini cuma berbagi pengalaman aja. Nama tokoh udah di ganti ya. Kalo ada kesalahan kata-kata dan pengetikan harap maklum. Masih pemula.

Terima Kasih ^-^

Kenangan Dalam Kenangan



Hei…
Kangen banget nulis di blog. Belakangan ini aku lagi sibuk nih. Banyak TUC, Ulangan, PR, dan lain-lain. Pokonya jadwal padat banegt deh. Gak nyangka aku udah kelas 3 SMP! Yeayy… bentar lagi aku lulus, terus masuk ke SMA. 

Aku gak sabar banget nih, pasti SMA akan seru banget. Temen baru, ngekos, seragam baru, sekolah baru, pokoknya banyak yang baru. Tapi aku sedih juga sih. Kebanyakan temen-temenku di SMP sekarang udah jadi temenku sejak SD, sejak TK palah. 

Udah lama banget kami sama-sama. Banyak banget kenangan-kenangan lucu, nybelin, bodoh, nyenengin, sedih, dan pokoknya kita itu udah deket banget. Sedih banget rasanya harus pisah-pisah. Ntah kapan deh bisa ketemu mereka semua lagi. Mungkin 10-20-30 tahun lagi, waktu reuni ? Ughhh… Kapanpun itu, semoga nanti kita bisa kumpul bareng-bareng lagi deh…

Gak Cuma temen-temen. Aku juga akan pisah sama guru-guru yang udah berjasa banget. Yang ngajarin aku ini itu. Yang nasehatin aku saat ada masalah. Yang bisa aku ajak cerita seperti teman. Pokonya guru-guru yang baik banget sama aku. Sampai sekarang aku bisa melangkah sejauh ini. Pengen deh aku bisa membuat mereka tersenyum bangga saat melihatku di masa depan nanti. Semoa aja ya…

Selain itu, aku juga di SMA akan nge-kos. Wew, calon anak kos. Gak kebayang banget akan gimana jadinya nanti. Gak Cuma itu, aku bakalan pisah dari Papa, Mama, dan adik-adik. Yes! Bebas! Hore!!! Merdeka! Oopps… Nggak lah, aku pasti bakalan kangen sama mereka. (dikit) :v candaaa…

Jadi… aku mulai ngehayal. Hobi paling gampang dilakuin dan paling aku suka. Saat menghayal, rasanya kita bisa kabur dari dunia sesaat. 

Hayalanku, aku lulus dengan nilai memuaskan jelasss…. IPA : 10 Mat:10 Indo: 10 Ing:10 Amin. Keren banget pasti! Namanya berkhayal kan gaada batasan ya. Nah, karena nilaiku bagus banget, Papa & Mama bangga dong. Jadi, diadakanlah pesta sykuran buat aku. Sebegai pembuka, Orang Tua, Guru, dan Temanku ada yang ngasih semacam salam perpisahan gitu dong… Bayanganku sih, mereka akan bilang gini : (semoga kejadian bener)

Papa / Mama :
San, Papa & Mama bangga banget sama kamu. Kamu udah jadi anak yang berani, dewasa, pintar, cantik, tanggung jawab, dan bisa akrab sama adik-adik. Sekarang kamu mau SMA, dan akan jadi anak kos di Semarang. Papa & Mama gabisa ngawasin kamu. Kamu haruis bisa jaga diri dan ngurus diri sendiri ya. Jangan sampai sakit dan bikin khawatir. Jangan mudah marah, dan jangan galak. Nanti semua pada takut loh. Pokonya focus  belajar disana, jangan nakal. Papa & Mama sayang kamu.

Guru :
Sandy, kamu sudah menjadi anak yang cerdasm kreatif, berani, pekerja keras, dan sudah sangat banyak berkembang.  Saya yakin kalau kamu nantinya dapat sukses dan meraih mimpi-mimpimu. Jangan sampai kamu berhenti di SMA ya. Kamu harus kuliah, dan menjadi orang yang sukses. Kalau kamu mau berusaha dan rajin belajar, maka kamu pasti bisa berhasil di SMA. Pokonya jangan mudah menyerah dan percaya kalau kamu bisa.

Sahabat :
San, gak nyangka kita udah lama sama-sama. Kamu tuh selalu ceria, ramah, baik, seru, gak sombong, pokoknya kamu itu temen yang baik banget. Meski kadang kamu bertingkah bodoh, ngeselin, aneh, gajelas, gak masalah. Buat aku, kamu akan selalu jadi Sandy yang unik. Dengan segala keanehan dan tingkah laku kamu. Setelah ini, kita bakalan jarang dan susah banget ketemu. Aku harap kita bisa tetep saling kontak dan berteman. Aku yakin banget, kamu pasti bakalan dapet banyak temen di SMA sana. Jangan minder, tetep percaya diri. Jadi diri kamu sendiri, karna kamu itu special.

Adik Kelas : (Maap, kayaknya adek kelas gak di undang) :v
Ci Sandy. Selamat ya ci, udah lulus dari SMP dengan hasil yang bagus juga! Cici itu gaakan gampang aku lupain. Udah seru, lucu, aneh, ceria, ramah, dan gak sombong. Kadang emang galak sih, tapi cici gak takut untuk memuji orang lain dan menyalahkan orang lain. Aku bener-bener bersyukur bisa banyak belajar dari cici. Dan semoga cici berhasil di masa depan. Jangan lupain kita para junior. Makasih buat semuanya. 

Ada 1 lagi yang istimewa. Malaikat Pelindungku, Santa Monica. Dia yang selalu jagain aku, nolongin aku, nemenin aku, dan dia pokoknya yang paling ngertiin aku. Sebenernya Sam lebih ngerti sih. Tapi, dia di cerita yang lain ya… Mungkin ini yang akan dia bilang :
Sandy… TK, SD, dan sekarang SMP. Kamu sudah bertumbuh dan berkembang. Aku sangat senang melihatmu mempelajari hal baru, menyelesaikan masalah, dan bisa menyembunyikan masalah-masalahmu. Kamu mungkin tidak tau aku ada, tapi aku akan tetap menjaga dan melindungimu karna aku menyayangimu. Maaf kalau aku sering lalai dan terkadang aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi, kamu (kita) dapat berhasil sejauh ini. SMA pasti tidak akan mudah. Ada ratusan tantangan menunggu untuk kau lewati. Aku yakin, kamu pasti akan bisa melewati semua tantangan itu. Mari, kita hadapi semua rintangan bersama-sama. Selalu, selamanya, aku sayang kamu. 

Yah... Kurang lebih gitu sih. Kalo ada kesalahan pengetikan atau pemilihan kata, maafin ya. Semoga aja gak bosen bosen baca artikel aku. 

Makasih kawan ^-^

Meninggalkan Kedamaian Demi Pembalasan

Hai,
Namaku, Muhammad Alai Salim. Aku tinggal di Amerika Serikat. Aku akan bercerita mengenai ceritaku. Dan tolong, berjanjilah. Jangan menilaiku sebelum kalian selesai membaca. Jangan mengambil kesimpulan apapun sampai kalian selesai. Bahkan, aku akan sangat berterima kasih kalau kalian tidak berpendapat sama sekali.
Saat itu  aku berusia 16 tahun. Sekolah adalah masa-masa terburuk dalam hidupku. Di sekolah, aku terus di bully dan dihina oleh kakak kelasku. Bahkan, lama kelamaan teman-temanku juga mengejekku. Aku menangis, takut, tapi juga marah.
Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka hanya menghinaku untuk kesenangan mereka. Mereka tertawa saat aku kesakitan. Mereka bahagia melihatku menderita, dan mereka menyukainya. Aku tidak mengerti, kenapa? Kenapa menyiksa seseorang bisa menjadi begitu menyenangkan?
Ahh... Aku lupa. Aku dan ayahku adalah imigran dari India. Ibuku meninggal sejak aku masih kecil. Di India, ayahku memiliki sebuah kebun binatang yang kemudian dijual karena keadaan ekonomi kami yang memburuk.
Teman ayahku menawarkan sebuah pekerjaan di Amerika. Ayahku langsung menerimanya, dan tiba-tiba aku sudah berada di atas kapal menuju ke Amerika. Besar harapanku bahwa Amerika akan menjadi tempatku. Aku ingin memulai awal yang baru.
Besar harapan ayahku padaku. Aku anak tunggalnya. Akulah harapannya untuk membanggakannya. Dia yang menjagaku sampai sekarang. Aku berusaha sebaikku, tapi Amerika bukanlah India. Semuanya berbeda. Budaya, tradisi, musik, bahkan orang-orangnya.
Kumulai tahun-tahun dalam sekolahku dengan baik. Aku belajar dengan rajin dan mendapat peringkat yang baik di sekolahku. Semua berjalan dengan sangat baik. Nilaiku membuat ayah tersenyum bangga. Tapi, ternyata ada juga yang tidak menyukai prestasiku.
Mereka, orang-orang jahat tanpa perasaan. Menyiksaku, membakar buku-bukuku, menghinaku, menghina ayahku, dan mereka menghancurkan harga diriku. Aku membenci mereka. Berhenti! Aku berteriak. Aku marah, aku lelah.
Lelah menjadi lemah, tidak berdaya melawan mereka. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Ravi.Dia adalah temanku yang terbaik. Dia yang selalu menolongku saat aku di-bully. Dia yang mendengarkan semua keluhan hidupku. Aku sangat percaya dengannya, dia tidak pernah mengkhianatiku. Aku berharap banyak padanya, dan aku harap kami berdua bisa jadi sahabat selamanya.
Suatu saat, Ravi mengajakku untuk pergi main. Ternyata, dia membawaku ke rumahnya. Aku memang pernah bertemu dengan orang tua Ravi, tapi aku belum terlalu mengenal mereka. Di rumah Ravi, aku diajarkan untuk mengenal agamanya. Dia mengenalkanku dengan organisasi ISIS.
Awalnya aku ketakutan. Banyak orang yang mengatakan kalau ISIS itu salah, dan jahat. Tapi, Ravi tidak jahat, dan dia adalah anggota ISIS. Ravi bilang, aku tidak akan dikucilkan lagi kalau aku bergabung dengannya dan pergi ke Suriah.
Pada malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku sangat kebingungan.Bagaimana bisa aku meninggalkan Ayah? Tapi, Ayah juga tidak pernah ada untukku. Aku lelah dengan kehidupanku. Aku kesepian, aku tidak mau Ravi pergi. Takut, aku takut sendirian lagi.
Keesokan paginya, aku siap. Aku akan pergi ke Suriah bersama Ravi. Dan benar, siang harinya aku, Ravi, Orangtua Ravi, dan kakak Ravi berangkat ke Suriah.
Sesampainya disana, aku belajar lebih banyak mengenai ISIS. Ravi benar, tidak ada pengucilan, aku tidak lagi di bully. Semuanya berjalan dengan baik sampai mereka mengirim aku dan Ravi ke sebuah negara. 
Mereka bilang, warga negara itu rasis, banyak membunuh orang muslim, menghina agama muslim, membenci, saling berperang, dan tidak memiliki kasih. Aku membenci mereka. Mereka juga sempat membunuh temanku. Aku akan membalas mereka! Aku harus menghancurkan mereka.
Tidak ada lagi perang, bully, rasis, dan hinaan! Aku tidak mau kembali ke duniaku yang mengerikan. Aku ingin membawa perbedaan pada dunia. Ravi bilang, dia ingin membuat dunia jadi lebih baik. ISIS telah memberikan tempat untuknya dan keluarganya. ISIS itu baik, mereka mau menghabisi ketidakadilan dunia.
Hari keberangkatanku tiba. Aku berhasil datang ke negara tujuanku. Bersama beberapa temanku, kami siap menegakkan keadilan dunia. Aku menghancurkan semua orang jahat itu! Aku membunuh dan menghabisi mereka semua. Aku tidak peduli siapa mereka. Aku ingin keadilan dan kebebasan. Tidak ada lagi ketidakadilan dan penghinaan. Aku akan mengakhiri semuanya agar tidak ada lagi orang yang menderita sepertiku.
Sejenak aku berhenti mencari Ravi. Aku melihatnya dan menghampirinya. Ada seorang Ibu yang membawa anaknya. Ibu itu menangis dan memohon agar dia diperbolehkan pergi. Ravi malah berteriak dan menghinanya. Aku semakin mendekatinya.
Ravi mengarahkan pistolnya kepada Ibu itu. Ibu itu semakin emnangis dan memohon. Aku mulai berlari, dan berteriak agar Ravi berhenti. Dia melihatku, dia melihat tepat ke arahku. Kupikir dia akan berhenti dan melepaskan Ibu dan anak itu. Tapi sambil tersenyum padaku, dia menembak sang Ibu tepat di kepalanya. Aku berteriak dan menghampirinya.
"Kenapa?! Kenapa kau lakukan itu?!" Aku berteriak dan menatap tepat di matanya. Ravi tersenyum dan berkata "Dia pantas mendapatkannya." "Tapi dia sudah memohon!" Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi padanya. "Apa kamu mau mengkhianati kami? Kamu membela mereka?!" Belum sempat aku menjawab, Ravi memberikan pistolnya kepadaku. "Ambil, tembak bayi itu. Kalau tidak, kamu adalah pengkhianat!"
Kuarahkan pistolku. Aku melihat bayi itu. Aku melihat matanya yang tidak berdosa, dan lalu dia tersenyum memandangku. Aku melihat Ravi yang memandangku dengan tajam. Aku memejamkan mataku, dan aku menarik pelatuknya. Dor! Satu tembakan dan Ravi terjatuh dengan mata terbuka lebar.
Seketika air mataku mengalir. Habis sudah semuanya. Satu-satunya temanku, sahabatku selamanya, pergi. Aku mengambil bayi itu dan aku berlari. Beberapa teman mencoba memberhentikanku, menanyakan apa yang kulakukan, dan menodongku dengan pistol. Aku tidak lagi ragu menembak. Aku salah! Aku salah! Aku bodoh! Aku terjebak dalam emosi dan dendamku.
Kemana aku harus pergi? Mereka mengejarku dan memanggilku pengkhianat. Aku harus bagaimana? Aku berlari tanpa arah. Aku sama sekali tidak tahu tempat ini. Aku masuk ke dalam sebuah rumah. Ada 3 orang bersembunyi di dalam lemari. Gemetar ketakutan melihatku. Aku berkata agar mereka menjaga bayi itu, dan pergi setelah sang Ibu dari keluarga itu mengambil bayi itu.
Lagi-lagi aku berlari. Mereka mengejarku dan menghujaniku dengan tembakan. Aku tidak bisa laagi berlari, aku tidak kuat lagi melangkah. Tapi mereka terus mendakat. Aku melihat kebelakang dan aku melihat mereka. Aku berbalik dan menembak mereka sebisaku.
Peluru menembus tubuhku. Sakit. Tapi tidak sebanding dengan penyesalanku. Aku terjatuh ke tanah. Aku melihat langit yang biru. Untuk pertama kalinya, dunia terasa hening dan indah. Aku merasa sangat tenang dan damai. Air mataku menetes. Kerinduanku akan kedamaian yang telah lama kutinggalkan. Ayah yang aku kecewakan. Aku rindu ayah... Aku ingin mengulang waktu, tapi aku terlambat dan sekarang semuanya berakhir.
Aku menutup mataku. Kemudian, aku pergi.


Cerita ini hanya fiktif dan sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Untuk kesamaan nama tokoh, tempat atau peristiwa, bukan merupakan kesengajaan. Untuk kesalahan pengetikan dan pemilihan kata, saya minta maaf. Pesan moral ambil sendiri.

Makasih ^-^

Manusia Tanpa Kemanusiaan



Hei Guyss….
Dalam artikel ini, aku mau cerita tentang pengalaman aku aja nih.. Simpel aja… Tapi menurutku ada banyak pesan moral yang bisa aku ambil dari peristiwa ini.
Jadi, pada tanggal 18 Januari 2016, pada saat aku pulang sekolah, di tengah jalan terjadi kecelakaan. Jalanan macet karena kecelakaan terjadi tepat di tengah jalan. Aku gak melihat kejadiannya. Saat aku lewat sudah ada sebuah motor yang terjatuh. Seorang pria menangis sambil mengelus pria yang satunya. Setelah kulihat, ternyata kepala pria itu sudah hancur dan remuk.
Supirku langsung turun dengan maksud untuk menolong. Tapi karena keadaan yang ramai dan sudah ada banyak orang yang menolong, dia kembali masuk ke dalam mobil. Ada beberapa orang membantu mengatur mobil. Ada yang hanya melihat di pinggir jalan. Ada juga yang malah mengambil foto.
Yang membuatku heran adalah mereka yang mengambil foto. Di saat sesamanya sedang sangat sedih, dan mengalami musibah…. Mereka masih sempat mengambil Hp dan mem-foto kejadian itu. Dimana rasa manusiawi mereka ? Meski mereka tidak saling mengenal, tidak ada salahnya untuk bersimpati dan merasa sedih. Bukannya malah bersikap biasa saja dan malah mengambil foto.
Rasa heran dan kecewaku bukan sampai situ saja. Tapi, sekitar 2 hari kemudian aku diberi tau kalau ada orang yang meng-upload foto kecelakaan itu di media social. Dimana manusiawi orang itu??? Oke, mungkin dia ingin berbagi informasi. Tapi, itu sebuah musibah, kecelakaan.
Orang itu mungkin bahkan tidak mengenal siapa yang kecelakaan dan bagaimana kejadiannya. Kita boleh berbagi informasi dan cerita lewat media social. Tidak ada larangan sama sekali, bahkan kita ber-hak untuk melakukan itu. Tapi, bagaiman bisa orang itu mengambil foto orang yang sedang mengalami kecelakaan. Bukan malah membantu menenangkan atau menelfon polisi. Yap, saat aku lewat, polisi belum datang ke tempat kejadian.
Media social memang penting. Bahkan sekarang media social sangat berpengaruh dalam hidup kita. Tapi bukan berarti kita bisa kehilangan kemanusiaan kita karenanya. “Foto ah, buat di upload.” “Foto lah, buat dikirim ke sodara.” Heeyyyy…. Orang itu lagi kesusahan, sedih, syok, dan bingung. Kalian bisa sempat-sempatnya mengambil foto?
Betapa hilangnya rasa kemanusiaan manusia sekarang. Mereka sering sekali melupakan rasa kemanusiaan mereka karena media social. Dan itu salah. Kita adalah manusia, bermartabat, berakal, berbudi, punya haati nurani.
Pernah aku melihat sebuah video. Ada seekor kucing yang temannya terlindas roda mobil dan mati. Kucing itu tidak meninggalkan temannya. Kucing itu malah berusaha memompa jantung temannya, mengeong minta pertolongan, dan terus menemani temannya. Kucing itu, aku bilang, lebih manusiawi daripada manusia zaman sekarang.
Ada seorang pepatah berkata “Melihat 1000 kali, tidak akan pernah bisa sama dengan merasakan 1 kali.” Jadi cobalah, kalian memposisikan diri kalian di posisi orang yang terkena musibah. Betapa dia tidak sedih melihat foto –fotonya tersebar… Membuatnya terus teringat kecelakaan itu, dan membuatnya semakin tertekan.
AKU MELIHAT MANUSIA, TAPI TIDAK ADA KEMANUSIAAN.
Itulah gambaranku untuk kejadian kecelakaan, teroris, pengeboman Paris, pembunuhan, korupsi, dan berbagai tindakan criminal lain. Ayo, kembalikan kemanusiaan di dunia ini. Kembalikan dunia ini menjadi dunia yang damai, indah, dan tanpa pertengkaran.
Kau gak perlu mengajak mama, papa, kaka, adik, sepupu, temen, dll untuk berubah. Berusahalah untuk merubah dirimu sendiri sebelum  kamu merubah orang lain dan dunia. Karena semuanya diawali dengan dirimu sendiri.
Yeps. Sekian aja artikel kali ini. Semoga bisa bermanfaat yaaa… Untuk berbagai kesalahan kata-kata, pengetikan, dan cerita, aku minta maaf ya. Artikel ini gak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Jadi, tolong jangan tersinggung ya. 

Makasi udah baca artikelku ^-^