Cinta Pada Pandangan Pertama ?

Hari Selasa, 29 Desember 2015. Hari yang ingin selalu aku ingat. Hari yang membuatku tersenyum bahagia dan kadang berasa aneh. Jadi, aku pengen nulis momen ini di blog agar bisa aku ingat terus.
Aku sedang ada di sebuah mall bersama kedua adikku, Karen dan Nelson juga kedua sepupuku, Cecil dan James. Kami pergi ke TimeZone (Sebuah tempat permainan). Disana kami bermain macam-macam mainan yang seru dan mendapat banyak tiket yang bisa ditukar dengan hadiah.
Tapi tiba-tiba aku melihat seorang anak kecil yang tangannya dipenuhi darah. Dia mimisan. Karena aku juga sering mimisan, aku jadi ingin menolong. Belum sempat aku menolong, dia menghampiri seorang cowo. Dag.. Dig.. Dug.. Rasanya aku bisa merasakan detak jantungku. Oke, juju raja cowo ini keren, kece, dan kelihatannya sih baik. Nb : Kelihatannya dia juga blester, muka bule gitu. :v
Cowo itu langsung membawa anak kecil itu pergi. Dia meninggalkan permainannya yang belum selesai. Permainan basket (wow, anak basket). Tiba-tiba, James, Karen dan Nelson memainkan (melanjutkan) permainan cowo itu.
Ughhh… Rasanya aneh. Aku langsung bilang ke Cecil kalau aku merasa gak enak mereka memainkan permainan cowo itu yang belum selesai. Belum lagi ada tiket milik cowo itu yang ditinggalkan begitu saja. Jadi, aku dan Cecil pergi mencari cowo itu. Menurut pengalaman pribadi, jelas cowo itu akan pergi ke toilet.
Dan, yak. Saya benar sekali. Saat aku baru berbelok dari lorong ke kamar mandi, cowo itu dan ank kecil itu keluar dari toilet. Refleks, aku langsung berbalik. Mau mati rasanya menahan jantungku yang mau meledak. Rasanya bingung banget harus bilang apa ke dia dan gimana cara memulai percakapan. Aku gak mau membuat kesan yang buruk karena banyak orang langsung meilaiku negative saat bertemu.
Cecil hanya tersenyum melihat tingkah bodohku. Dia keluar dari lorong. Berfikir cepat! Aku langsung menghentikannya. “Sorry.” Kata pertama yang aku ucapkan. “kamu yang tadi main basket ya?” dia melihatku dan menjawab “iya” aku lupa dia senyum atau nggak. Sejenak aku melihat Cecil yang juga sedang melihatku. Senyum aneh muncul di wajahku. “Um… permainannya dimainin sama sodara-sodara aku. Maaf ya.” Dug.. dug.. dug… mau copot jantungku.
Tapi lalu dia bilang “oh, iya gakpapa kok.” Langsung aku berfikir CARI TOPIK LAGI! Spontan “Oke. Ini adiknya gakpapa?” Dia senyum OMG! “Iya. Tadi dia mimisan.” “Ohh…” Cuma itu yang bisa aku bilang! Sial, aku bisa aja nasehatin biar adeknya gak mimisan, Tanya nama, apapun! Tapi aku malah diem. Bodo! Bodo! Bodo! Aku sama sekali gak mikirin kalau mungkin aku gak akan bisa ketemu sama dia lagi!
Setelah balik ke TimeZone, aku mengambil tiket cowo itu dan menghampirinya. Dia sedang bersama dengan beberapa temannya mungkin? Pokoknya bersama beberapa laki-laki lain, kelihatannya sih lebih tua daripada cowo itu. Dan lagi-lagi aku bertingkah bodoh. Dan kata “Sorry” keluar lagi dari mulutku! Dia menerima tiket itu dan tersenyum sambil berterimakasih. Awww…
Akhirnya selesailah pertemuanku sama dia. Yah, kadang sambil main aku sambil liatin dia main basket sih. Atau dia main sama adeknya. Pokoknya liatin dia gitu. Mana si Cecil sama Karen malah berusaha ngambil foto dia lagi. Dia jadi kadang ngeliat ke arah kami. Kan rasanya jadi aneh, jangan-jangan dia berfikir aku aneh?! Ughh… Ntahlah apa yang dia pikirin tentang aku.
Setelah itu aku, Karen, Cecil, Nelson, dan James pergi ke supermarket. Saat sednag menyegel tas (aturan supermarket), James bilang kalau tas Nelson ketinggalan di TimeZone. Spontan aku langsung lari ke TimeZone. Capek banget rasanya. TimeZone dan supermarket itu beda lantai, dan jaraknya juga lumayan jauh. Meski pakai escalator, tetep aja capek.
Disana, ada dia (alasan lain aku datang) lagi menukar tiket sama teman-temanya. Tapi, aku langsung pergi ke tempat Nelson meninggalkan tasnya. Untunglah, tas itu masih ada dan tidak ada yang mengambil. Langsung aku ambil tas itu dan aku peluk dengan sangat erat. Barulah berasa kelelahanku berlari dengan sangat buru-buru.
Lagi-lagi mata nakalku melihat ke arahnya. OMG OMG OMG. Dia melihatku! Aku bingung dan aku hanya terdiam saja sambil memeluk tas seperti orang bodoh. Dan lalu, dia tersenyum. Yaampun, manisnya… Aku langsung membalas senyumnya. Dan lagi-lagi aku bertindak bodoh. Aku malah langsung berbelok ke arah keluar TimeZone.
Nelson baru sampai di TimeZone. Aku langsung memberikan tas itu padanya. Dan aku secara otomatis dan karena salah tingkah. Aku bilang “Fak ya!” Mungkin agak keras, ntahlah. Semoga cowo itu gak dengar. Semoga semoga semoga. Aku dan Nelson langsung pergi meninggalkan TimeZone. Aku gak berani lagi melihatnya. Aku langsung kabur gak melihat ke belakang. Selesai pertemuanku dengannya dan menyukainya tanpa mengenal namanya.
Kupikir aku akan bisa melupakannya. Tapi aku salah besar dan aku benar-benar tidak bisa melupakannya. Dia malah datang ke dalam mimpiku dengan senyumannya ya menenangkan.  Dan sampai sekarang, 5 Maret 2016… Dia datang ke mimpiku sebanyak 3 kali! Gila.
Pertama, aku melihatnya sekilas dengan sweater hitam yang dia pakai saat aku bertemu dengannya. Dia berdiri, dan tersenyum. Tapi lalu aku kabur, aku sadar itu dia. Tapi ntah bagaimana aku pergi.
Kedua, aku dan seorang cowo gandengan dan rasanya kayak kita pacaran. Aku sekilas melihat mukannya. Tapi aku gak yakin, aku hanya tau kalau itu dia. Dia nggandeng aku. Sweet.
Ketiga, aku chatting sama dia. Dia bilang kalau rumahnya ada di depan sekolahnya. Ntah gimana aku lalu datang ke sekolahnya dengan supriku. Aku melihat ada beberapa anak keluar, dan lalu ada seorang anak yang kelihatannya blester. Dia bukan anak yang mimisan. Tapi ntah gimana aku tau kalau anak kecil itu adik dari cowo itu. Terus aku menunggu cowo itu keluar. Belum aku melihat wajahnya, supirku menjalankan mobil meninggalkan sekolah itu. Mimpiku masih berlanjut, tapi gak penting. Aku tidak berhasil melihatnya.
Lebih anehnya lagi, sekarang aku gak inget wajahnya. Tapi aku yakin, saat aku ketemu dia, aku tau itu dia. Dan aku berharap pertemuan aku dan dia yang kedua akan lebih baik. Ntah kapan, biar Tuhan yang memutuskan. Tapi sekarang, aku hanya bisa mikirin dia, dia, dan dia. Seorang cowo yang sama sekali gak aku kenal. Seorang cowo dengan senyuman yang super manis dan menenangkan. <3

Yeay.... Oke, sekian artikel ini. Ini beneran loh, bukan fiktif. Aetikel ini juga sama sekali gak bermaksud nyinggung siapapun. Ini cuma berbagi pengalaman aja. Nama tokoh udah di ganti ya. Kalo ada kesalahan kata-kata dan pengetikan harap maklum. Masih pemula.

Terima Kasih ^-^

Kenangan Dalam Kenangan



Hei…
Kangen banget nulis di blog. Belakangan ini aku lagi sibuk nih. Banyak TUC, Ulangan, PR, dan lain-lain. Pokonya jadwal padat banegt deh. Gak nyangka aku udah kelas 3 SMP! Yeayy… bentar lagi aku lulus, terus masuk ke SMA. 

Aku gak sabar banget nih, pasti SMA akan seru banget. Temen baru, ngekos, seragam baru, sekolah baru, pokoknya banyak yang baru. Tapi aku sedih juga sih. Kebanyakan temen-temenku di SMP sekarang udah jadi temenku sejak SD, sejak TK palah. 

Udah lama banget kami sama-sama. Banyak banget kenangan-kenangan lucu, nybelin, bodoh, nyenengin, sedih, dan pokoknya kita itu udah deket banget. Sedih banget rasanya harus pisah-pisah. Ntah kapan deh bisa ketemu mereka semua lagi. Mungkin 10-20-30 tahun lagi, waktu reuni ? Ughhh… Kapanpun itu, semoga nanti kita bisa kumpul bareng-bareng lagi deh…

Gak Cuma temen-temen. Aku juga akan pisah sama guru-guru yang udah berjasa banget. Yang ngajarin aku ini itu. Yang nasehatin aku saat ada masalah. Yang bisa aku ajak cerita seperti teman. Pokonya guru-guru yang baik banget sama aku. Sampai sekarang aku bisa melangkah sejauh ini. Pengen deh aku bisa membuat mereka tersenyum bangga saat melihatku di masa depan nanti. Semoa aja ya…

Selain itu, aku juga di SMA akan nge-kos. Wew, calon anak kos. Gak kebayang banget akan gimana jadinya nanti. Gak Cuma itu, aku bakalan pisah dari Papa, Mama, dan adik-adik. Yes! Bebas! Hore!!! Merdeka! Oopps… Nggak lah, aku pasti bakalan kangen sama mereka. (dikit) :v candaaa…

Jadi… aku mulai ngehayal. Hobi paling gampang dilakuin dan paling aku suka. Saat menghayal, rasanya kita bisa kabur dari dunia sesaat. 

Hayalanku, aku lulus dengan nilai memuaskan jelasss…. IPA : 10 Mat:10 Indo: 10 Ing:10 Amin. Keren banget pasti! Namanya berkhayal kan gaada batasan ya. Nah, karena nilaiku bagus banget, Papa & Mama bangga dong. Jadi, diadakanlah pesta sykuran buat aku. Sebegai pembuka, Orang Tua, Guru, dan Temanku ada yang ngasih semacam salam perpisahan gitu dong… Bayanganku sih, mereka akan bilang gini : (semoga kejadian bener)

Papa / Mama :
San, Papa & Mama bangga banget sama kamu. Kamu udah jadi anak yang berani, dewasa, pintar, cantik, tanggung jawab, dan bisa akrab sama adik-adik. Sekarang kamu mau SMA, dan akan jadi anak kos di Semarang. Papa & Mama gabisa ngawasin kamu. Kamu haruis bisa jaga diri dan ngurus diri sendiri ya. Jangan sampai sakit dan bikin khawatir. Jangan mudah marah, dan jangan galak. Nanti semua pada takut loh. Pokonya focus  belajar disana, jangan nakal. Papa & Mama sayang kamu.

Guru :
Sandy, kamu sudah menjadi anak yang cerdasm kreatif, berani, pekerja keras, dan sudah sangat banyak berkembang.  Saya yakin kalau kamu nantinya dapat sukses dan meraih mimpi-mimpimu. Jangan sampai kamu berhenti di SMA ya. Kamu harus kuliah, dan menjadi orang yang sukses. Kalau kamu mau berusaha dan rajin belajar, maka kamu pasti bisa berhasil di SMA. Pokonya jangan mudah menyerah dan percaya kalau kamu bisa.

Sahabat :
San, gak nyangka kita udah lama sama-sama. Kamu tuh selalu ceria, ramah, baik, seru, gak sombong, pokoknya kamu itu temen yang baik banget. Meski kadang kamu bertingkah bodoh, ngeselin, aneh, gajelas, gak masalah. Buat aku, kamu akan selalu jadi Sandy yang unik. Dengan segala keanehan dan tingkah laku kamu. Setelah ini, kita bakalan jarang dan susah banget ketemu. Aku harap kita bisa tetep saling kontak dan berteman. Aku yakin banget, kamu pasti bakalan dapet banyak temen di SMA sana. Jangan minder, tetep percaya diri. Jadi diri kamu sendiri, karna kamu itu special.

Adik Kelas : (Maap, kayaknya adek kelas gak di undang) :v
Ci Sandy. Selamat ya ci, udah lulus dari SMP dengan hasil yang bagus juga! Cici itu gaakan gampang aku lupain. Udah seru, lucu, aneh, ceria, ramah, dan gak sombong. Kadang emang galak sih, tapi cici gak takut untuk memuji orang lain dan menyalahkan orang lain. Aku bener-bener bersyukur bisa banyak belajar dari cici. Dan semoga cici berhasil di masa depan. Jangan lupain kita para junior. Makasih buat semuanya. 

Ada 1 lagi yang istimewa. Malaikat Pelindungku, Santa Monica. Dia yang selalu jagain aku, nolongin aku, nemenin aku, dan dia pokoknya yang paling ngertiin aku. Sebenernya Sam lebih ngerti sih. Tapi, dia di cerita yang lain ya… Mungkin ini yang akan dia bilang :
Sandy… TK, SD, dan sekarang SMP. Kamu sudah bertumbuh dan berkembang. Aku sangat senang melihatmu mempelajari hal baru, menyelesaikan masalah, dan bisa menyembunyikan masalah-masalahmu. Kamu mungkin tidak tau aku ada, tapi aku akan tetap menjaga dan melindungimu karna aku menyayangimu. Maaf kalau aku sering lalai dan terkadang aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi, kamu (kita) dapat berhasil sejauh ini. SMA pasti tidak akan mudah. Ada ratusan tantangan menunggu untuk kau lewati. Aku yakin, kamu pasti akan bisa melewati semua tantangan itu. Mari, kita hadapi semua rintangan bersama-sama. Selalu, selamanya, aku sayang kamu. 

Yah... Kurang lebih gitu sih. Kalo ada kesalahan pengetikan atau pemilihan kata, maafin ya. Semoga aja gak bosen bosen baca artikel aku. 

Makasih kawan ^-^

Meninggalkan Kedamaian Demi Pembalasan

Hai,
Namaku, Muhammad Alai Salim. Aku tinggal di Amerika Serikat. Aku akan bercerita mengenai ceritaku. Dan tolong, berjanjilah. Jangan menilaiku sebelum kalian selesai membaca. Jangan mengambil kesimpulan apapun sampai kalian selesai. Bahkan, aku akan sangat berterima kasih kalau kalian tidak berpendapat sama sekali.
Saat itu  aku berusia 16 tahun. Sekolah adalah masa-masa terburuk dalam hidupku. Di sekolah, aku terus di bully dan dihina oleh kakak kelasku. Bahkan, lama kelamaan teman-temanku juga mengejekku. Aku menangis, takut, tapi juga marah.
Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka hanya menghinaku untuk kesenangan mereka. Mereka tertawa saat aku kesakitan. Mereka bahagia melihatku menderita, dan mereka menyukainya. Aku tidak mengerti, kenapa? Kenapa menyiksa seseorang bisa menjadi begitu menyenangkan?
Ahh... Aku lupa. Aku dan ayahku adalah imigran dari India. Ibuku meninggal sejak aku masih kecil. Di India, ayahku memiliki sebuah kebun binatang yang kemudian dijual karena keadaan ekonomi kami yang memburuk.
Teman ayahku menawarkan sebuah pekerjaan di Amerika. Ayahku langsung menerimanya, dan tiba-tiba aku sudah berada di atas kapal menuju ke Amerika. Besar harapanku bahwa Amerika akan menjadi tempatku. Aku ingin memulai awal yang baru.
Besar harapan ayahku padaku. Aku anak tunggalnya. Akulah harapannya untuk membanggakannya. Dia yang menjagaku sampai sekarang. Aku berusaha sebaikku, tapi Amerika bukanlah India. Semuanya berbeda. Budaya, tradisi, musik, bahkan orang-orangnya.
Kumulai tahun-tahun dalam sekolahku dengan baik. Aku belajar dengan rajin dan mendapat peringkat yang baik di sekolahku. Semua berjalan dengan sangat baik. Nilaiku membuat ayah tersenyum bangga. Tapi, ternyata ada juga yang tidak menyukai prestasiku.
Mereka, orang-orang jahat tanpa perasaan. Menyiksaku, membakar buku-bukuku, menghinaku, menghina ayahku, dan mereka menghancurkan harga diriku. Aku membenci mereka. Berhenti! Aku berteriak. Aku marah, aku lelah.
Lelah menjadi lemah, tidak berdaya melawan mereka. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Ravi.Dia adalah temanku yang terbaik. Dia yang selalu menolongku saat aku di-bully. Dia yang mendengarkan semua keluhan hidupku. Aku sangat percaya dengannya, dia tidak pernah mengkhianatiku. Aku berharap banyak padanya, dan aku harap kami berdua bisa jadi sahabat selamanya.
Suatu saat, Ravi mengajakku untuk pergi main. Ternyata, dia membawaku ke rumahnya. Aku memang pernah bertemu dengan orang tua Ravi, tapi aku belum terlalu mengenal mereka. Di rumah Ravi, aku diajarkan untuk mengenal agamanya. Dia mengenalkanku dengan organisasi ISIS.
Awalnya aku ketakutan. Banyak orang yang mengatakan kalau ISIS itu salah, dan jahat. Tapi, Ravi tidak jahat, dan dia adalah anggota ISIS. Ravi bilang, aku tidak akan dikucilkan lagi kalau aku bergabung dengannya dan pergi ke Suriah.
Pada malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku sangat kebingungan.Bagaimana bisa aku meninggalkan Ayah? Tapi, Ayah juga tidak pernah ada untukku. Aku lelah dengan kehidupanku. Aku kesepian, aku tidak mau Ravi pergi. Takut, aku takut sendirian lagi.
Keesokan paginya, aku siap. Aku akan pergi ke Suriah bersama Ravi. Dan benar, siang harinya aku, Ravi, Orangtua Ravi, dan kakak Ravi berangkat ke Suriah.
Sesampainya disana, aku belajar lebih banyak mengenai ISIS. Ravi benar, tidak ada pengucilan, aku tidak lagi di bully. Semuanya berjalan dengan baik sampai mereka mengirim aku dan Ravi ke sebuah negara. 
Mereka bilang, warga negara itu rasis, banyak membunuh orang muslim, menghina agama muslim, membenci, saling berperang, dan tidak memiliki kasih. Aku membenci mereka. Mereka juga sempat membunuh temanku. Aku akan membalas mereka! Aku harus menghancurkan mereka.
Tidak ada lagi perang, bully, rasis, dan hinaan! Aku tidak mau kembali ke duniaku yang mengerikan. Aku ingin membawa perbedaan pada dunia. Ravi bilang, dia ingin membuat dunia jadi lebih baik. ISIS telah memberikan tempat untuknya dan keluarganya. ISIS itu baik, mereka mau menghabisi ketidakadilan dunia.
Hari keberangkatanku tiba. Aku berhasil datang ke negara tujuanku. Bersama beberapa temanku, kami siap menegakkan keadilan dunia. Aku menghancurkan semua orang jahat itu! Aku membunuh dan menghabisi mereka semua. Aku tidak peduli siapa mereka. Aku ingin keadilan dan kebebasan. Tidak ada lagi ketidakadilan dan penghinaan. Aku akan mengakhiri semuanya agar tidak ada lagi orang yang menderita sepertiku.
Sejenak aku berhenti mencari Ravi. Aku melihatnya dan menghampirinya. Ada seorang Ibu yang membawa anaknya. Ibu itu menangis dan memohon agar dia diperbolehkan pergi. Ravi malah berteriak dan menghinanya. Aku semakin mendekatinya.
Ravi mengarahkan pistolnya kepada Ibu itu. Ibu itu semakin emnangis dan memohon. Aku mulai berlari, dan berteriak agar Ravi berhenti. Dia melihatku, dia melihat tepat ke arahku. Kupikir dia akan berhenti dan melepaskan Ibu dan anak itu. Tapi sambil tersenyum padaku, dia menembak sang Ibu tepat di kepalanya. Aku berteriak dan menghampirinya.
"Kenapa?! Kenapa kau lakukan itu?!" Aku berteriak dan menatap tepat di matanya. Ravi tersenyum dan berkata "Dia pantas mendapatkannya." "Tapi dia sudah memohon!" Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi padanya. "Apa kamu mau mengkhianati kami? Kamu membela mereka?!" Belum sempat aku menjawab, Ravi memberikan pistolnya kepadaku. "Ambil, tembak bayi itu. Kalau tidak, kamu adalah pengkhianat!"
Kuarahkan pistolku. Aku melihat bayi itu. Aku melihat matanya yang tidak berdosa, dan lalu dia tersenyum memandangku. Aku melihat Ravi yang memandangku dengan tajam. Aku memejamkan mataku, dan aku menarik pelatuknya. Dor! Satu tembakan dan Ravi terjatuh dengan mata terbuka lebar.
Seketika air mataku mengalir. Habis sudah semuanya. Satu-satunya temanku, sahabatku selamanya, pergi. Aku mengambil bayi itu dan aku berlari. Beberapa teman mencoba memberhentikanku, menanyakan apa yang kulakukan, dan menodongku dengan pistol. Aku tidak lagi ragu menembak. Aku salah! Aku salah! Aku bodoh! Aku terjebak dalam emosi dan dendamku.
Kemana aku harus pergi? Mereka mengejarku dan memanggilku pengkhianat. Aku harus bagaimana? Aku berlari tanpa arah. Aku sama sekali tidak tahu tempat ini. Aku masuk ke dalam sebuah rumah. Ada 3 orang bersembunyi di dalam lemari. Gemetar ketakutan melihatku. Aku berkata agar mereka menjaga bayi itu, dan pergi setelah sang Ibu dari keluarga itu mengambil bayi itu.
Lagi-lagi aku berlari. Mereka mengejarku dan menghujaniku dengan tembakan. Aku tidak bisa laagi berlari, aku tidak kuat lagi melangkah. Tapi mereka terus mendakat. Aku melihat kebelakang dan aku melihat mereka. Aku berbalik dan menembak mereka sebisaku.
Peluru menembus tubuhku. Sakit. Tapi tidak sebanding dengan penyesalanku. Aku terjatuh ke tanah. Aku melihat langit yang biru. Untuk pertama kalinya, dunia terasa hening dan indah. Aku merasa sangat tenang dan damai. Air mataku menetes. Kerinduanku akan kedamaian yang telah lama kutinggalkan. Ayah yang aku kecewakan. Aku rindu ayah... Aku ingin mengulang waktu, tapi aku terlambat dan sekarang semuanya berakhir.
Aku menutup mataku. Kemudian, aku pergi.


Cerita ini hanya fiktif dan sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Untuk kesamaan nama tokoh, tempat atau peristiwa, bukan merupakan kesengajaan. Untuk kesalahan pengetikan dan pemilihan kata, saya minta maaf. Pesan moral ambil sendiri.

Makasih ^-^

Manusia Tanpa Kemanusiaan



Hei Guyss….
Dalam artikel ini, aku mau cerita tentang pengalaman aku aja nih.. Simpel aja… Tapi menurutku ada banyak pesan moral yang bisa aku ambil dari peristiwa ini.
Jadi, pada tanggal 18 Januari 2016, pada saat aku pulang sekolah, di tengah jalan terjadi kecelakaan. Jalanan macet karena kecelakaan terjadi tepat di tengah jalan. Aku gak melihat kejadiannya. Saat aku lewat sudah ada sebuah motor yang terjatuh. Seorang pria menangis sambil mengelus pria yang satunya. Setelah kulihat, ternyata kepala pria itu sudah hancur dan remuk.
Supirku langsung turun dengan maksud untuk menolong. Tapi karena keadaan yang ramai dan sudah ada banyak orang yang menolong, dia kembali masuk ke dalam mobil. Ada beberapa orang membantu mengatur mobil. Ada yang hanya melihat di pinggir jalan. Ada juga yang malah mengambil foto.
Yang membuatku heran adalah mereka yang mengambil foto. Di saat sesamanya sedang sangat sedih, dan mengalami musibah…. Mereka masih sempat mengambil Hp dan mem-foto kejadian itu. Dimana rasa manusiawi mereka ? Meski mereka tidak saling mengenal, tidak ada salahnya untuk bersimpati dan merasa sedih. Bukannya malah bersikap biasa saja dan malah mengambil foto.
Rasa heran dan kecewaku bukan sampai situ saja. Tapi, sekitar 2 hari kemudian aku diberi tau kalau ada orang yang meng-upload foto kecelakaan itu di media social. Dimana manusiawi orang itu??? Oke, mungkin dia ingin berbagi informasi. Tapi, itu sebuah musibah, kecelakaan.
Orang itu mungkin bahkan tidak mengenal siapa yang kecelakaan dan bagaimana kejadiannya. Kita boleh berbagi informasi dan cerita lewat media social. Tidak ada larangan sama sekali, bahkan kita ber-hak untuk melakukan itu. Tapi, bagaiman bisa orang itu mengambil foto orang yang sedang mengalami kecelakaan. Bukan malah membantu menenangkan atau menelfon polisi. Yap, saat aku lewat, polisi belum datang ke tempat kejadian.
Media social memang penting. Bahkan sekarang media social sangat berpengaruh dalam hidup kita. Tapi bukan berarti kita bisa kehilangan kemanusiaan kita karenanya. “Foto ah, buat di upload.” “Foto lah, buat dikirim ke sodara.” Heeyyyy…. Orang itu lagi kesusahan, sedih, syok, dan bingung. Kalian bisa sempat-sempatnya mengambil foto?
Betapa hilangnya rasa kemanusiaan manusia sekarang. Mereka sering sekali melupakan rasa kemanusiaan mereka karena media social. Dan itu salah. Kita adalah manusia, bermartabat, berakal, berbudi, punya haati nurani.
Pernah aku melihat sebuah video. Ada seekor kucing yang temannya terlindas roda mobil dan mati. Kucing itu tidak meninggalkan temannya. Kucing itu malah berusaha memompa jantung temannya, mengeong minta pertolongan, dan terus menemani temannya. Kucing itu, aku bilang, lebih manusiawi daripada manusia zaman sekarang.
Ada seorang pepatah berkata “Melihat 1000 kali, tidak akan pernah bisa sama dengan merasakan 1 kali.” Jadi cobalah, kalian memposisikan diri kalian di posisi orang yang terkena musibah. Betapa dia tidak sedih melihat foto –fotonya tersebar… Membuatnya terus teringat kecelakaan itu, dan membuatnya semakin tertekan.
AKU MELIHAT MANUSIA, TAPI TIDAK ADA KEMANUSIAAN.
Itulah gambaranku untuk kejadian kecelakaan, teroris, pengeboman Paris, pembunuhan, korupsi, dan berbagai tindakan criminal lain. Ayo, kembalikan kemanusiaan di dunia ini. Kembalikan dunia ini menjadi dunia yang damai, indah, dan tanpa pertengkaran.
Kau gak perlu mengajak mama, papa, kaka, adik, sepupu, temen, dll untuk berubah. Berusahalah untuk merubah dirimu sendiri sebelum  kamu merubah orang lain dan dunia. Karena semuanya diawali dengan dirimu sendiri.
Yeps. Sekian aja artikel kali ini. Semoga bisa bermanfaat yaaa… Untuk berbagai kesalahan kata-kata, pengetikan, dan cerita, aku minta maaf ya. Artikel ini gak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Jadi, tolong jangan tersinggung ya. 

Makasi udah baca artikelku ^-^

Persiapan Pentas Seni

Hey kawan...
Jadi, belum lama ini sekolahku mengadakan acara natalan bersama. Jujur, acaranya memang mendadak banget. Karena aku seorang anggota OSIS, aku juga sibuk mengurusi persiapan acara natalan. Tapi, aku juga tidak meninggalkan atau melupakan kelasku.
Acara natalan direncanakan 4 hari sebelum hari H. Setiap kelas juga wajib untuk menyumbangkan pentas seni. Jadi, mau gak mau ya kelasku juga harus menyumbangkan pentas seni.
Yah... Pada awalnya semua anggota kelasku setuju untuk menampilkan Flashmob. Setelah mencari lagu, kami sepakat untuk menggunakan lagu Shake It Off dari Taylor Swift. Aku awalnya yakin kalau semua anggota kelas bisa konsisten dengan kata-katanya dan mau berlatih, maka Flashmob pasti akan berhasil.
Malamnya, aku mencari video flashmob di youtube. Banyak lagu yang kucari, dan koreo yang kupilih juga yang mudah-mudah. Setelah selesai, aku menyimpan link-nya di Microsoft Word agar mudah mencarinya esok hari di sekolah.
Besoknya, aku membawa laptop ke sekolah. Rencananya, laptopku baru akan kupakai pulang sekolah. Tapi teman-teman sudah penasaran. Kebetulan, ada jam kosong, sehingga mereka leluasa membuka laptop meskipun ada tugas. Jadi, selama aku mengerjakan tugas ntah apa yang mereka buka di youtube dengan laptopku.
Setelah aku selesai mengerjakan tugas yang diberikan, aku mengecek apa yang sedang dilihat teman-temanku. Rupanya mereka sedang melihat koreografi Flashmob tapi memakai lagu Worth It dari Fifth Harmony. Memang agak melenceng dari kesepakatan awal sih, tapi aku biarkan saja.
Karena ada jam kosong pada pelajaran terakhir, aku dan teman-teman memutuskan untuk menyicil latihan. Tapi, karena terlalu lama dipakai, laptopku LowBatt. Jadi, tidak bisa dipakai. Apalagi saat itu juga anggota OSIS di kelasku sedang melakukan tugasnya. Jadi, mereka tidak bisa ikut latihan dan tidak bisa berpartisipasi dalam pentas seni acara natalan.
Aku juga mengerjakan tugas OSIS-ku, tapi karena aku seksi publikasi, jadi tugasku tidak berat. Hanya membuat poster, menempel poster, dan mempublikasikan acara natalan agar banyak siswa yang tertarik untuk hadir. Jadi, aku masih bisa membantu dan berpartisipasi dalam pentas seni.
Latihan pertama, berjalan dengan buruk. Kami mendapat pinjaman laptop dari guru untuk berlatih. Tapi, anak laki-laki tidak dapat konsisten dengan perkataan mereka. Mereka malas-malasan berlatih. Kalau diteruskan, flashmob-nya tidak akan berhasil. Jadi, aku menanyai satu persatu anak laki-laki untuk memastikan apakah mereka mau ikut atau tidak.
Dan benar saja, tidak ada dari mereka yang berminat untuk berpartisipasi. Aku kecewa, marah, sedih, dan pasrah. Kenapa mereka tidak bisa konsisten? Kenapa mereka dengan mudahnya berubah pikiran.
Akhirnya, hanya ada 8 gadis yang akan melakukan flashmob.Sebenarnya di kelasku ada 11 gadis, tapi yang 3 sedang sibuk mengurus persiapan acara.
Belum lama berlatih, bel sudah berbunyi. Jadi aku meminta teman-teman untuk latihan di rumah.
Keesokan harinya, semua pelajaran ditiadakan. Hari itu digunakan untuk mempersiapkan pentas seni untuk acara natalan. Jadi, tentu saja kami segera memulai latihan.
Anak laki laki pergi ntah kemana. Kami segera memulai latihan. Setelah 1 jam lebih latihan, ada temanku yang berkata padaku "Kita gak akan bisa." Aku gak pengen menyerah. Tapi, teman-temanku yang lain juga sudah menyerah. Jadi, aku bertanya "Terus, kita mau apa? Masa kita mengundurkan diri?"
Semua diam. Aku juga bingung, karena waktunya sudah mepet. Akhirnya ada yang mengusulkan untuk menyanyi. Langsung saja aku mencari lagu. Tapi, sepertinya hanya ada beberapa saja yang berminat. Lama kelamaan, ada yang pergi. Aku tidak menghiraukannya dan tetap mencari lagu.
Tapi, tidak ada yang konsisten dengan pilihannya. Kami jadi kebingungan memilih lagu. Hanya tinggal ada 4 gadis. Kami merasa putus asa. Kami tidak tau harus menampilkan apa.
Bahkan, aku juga akhirnya menyerah. Aku memutuskan untuk bilang kepada wali kelas kami kalau kami mengundurkan diri. Tapi, saat aku sampai di kantor, wali kelas kami sedang tidak ada.
Rasanya, kami ditinggalkan, diabaikan, dan tidak ada harapan. Kami benar-benar tidak tau harus apa untuk acara natalan. Kemudian, Gita datang, dia mau ikut pentas seni.
Saat kami sednag mencari ide untuk pentas seni... Ketua OSIS yang juga bagian dari kelas 9B datang dan menjelaskan kalau pentas seni ini wajib. Gak lama kemudian, Ketua Kelas yang pergi ntah kemana datang dan menanyakan apa yang akan kami lakukan untuk pentas seni.
Spontan, aku emosi. Emosi karena sejak tadi dia sudah pergi, dan tiba-tiba dia kembali seolah gak bersalah. Dan yah... Dia kesal karena aku memarahinya atas sikapnya yang tidak bertanggung jawab.
Tapi, pada akhirnya kami menampilkan lagu "Kenangan Terindah". Yah, memang sangat jauh dari rencana awal, tapi paling tidak kami tidak menyerah dan tidak mundur. Meski jujur, aku memang snagat tidak puas dengan sikap dan tanggung jawab kelasku, tapi aku harus bisa menghargai keputusan mereka dan aku harus bisa memaafkan mereka karena mereka yang meninggalkan tanggung jawab mereka.
Pokonya untuk kalian, jangan gengsi, malu, atau males untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas kalian. Karena kalau kalian gitu, kalian juga malah akan mempermalukan diri kalian sendiri. Kalian akan dianggap sebagai pecundang, gabisa tanggung jawab, dan mementingkan gengsi. Dan, jangan malu buat usul kalo kalian sendiri punya usul, daripada kalian mundur dari ide yang kalian setujui sendiri. Karena hal itu, MEMALUKAN.

Oke... Sekian artikel kali ini.
Untuk kata-kata yang kurang berkenan dan berbagai Typo, saya minta maaf.

Terima Kasih ^-^

Jaka Tarub



Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak bernama Jaka Tarub. Dia tinggal dengan kedua orang tuanya dan seorang adik perempuannya. Ibu Jaka, Sekar dulunya adalah gadis tercantik di desa. Banyak sekali laki-laki yang inginmenjadikannya istri.
Tapi, ibu Jaka lebih memilih ayah Jaka, Ranu. Padahal, ayah Jaka adalah orang yang bodoh dan ceroboh. Saat ditanya kedua orangtuanya kenapa dia lebih memilih Ranu daripada semua laki-laki yang lebih baik, Sekar menjawab “Cinta bukan hanya karna wajah, uang, atau kepintaran. Cinta itu perasaan yang tidak terjelaskan. Dan aku yakin, Ranu akan menjadi orang yang tepat untukku.”
Setelah mendengar perkataan Sekar, kedua orangtuanya tidak mengatakan apapun lagi. Mereka menyetujui pernikahan Sekar. Tapi, banyak laki-laki yang tidak setuju dengan keputusan kedua orangtua Sekar. Mereka membakar rumah Ranu dan Sekar.
Untuk menghindari kejadian itu terjadi lagi, Ranu dan Sekar pindah ke hutan. Tempatnya tidak terlalu jauh dari desa, tapi cukup untuk menghindari orang-orang yang membenci mereka.
Dua tahun setelah mereka menikah, Jaka lahir. Tidak seperti ayahnya, Jaka tumbuh menjadi anak yang pintar, tapi dia sangat nakal. Dia suka memanjat pohon di hutan, berenang di sungai, dan menghilang saat orangtuanya mencarinya.
Saat jaka berusia sekitar 5 tahun, adik perempuannya lahir. Namanya Arum. Tidak seperti kakaknya, Arum adalah gadis yang manis, sopan, dan lembut. Tapi sayang, kebodohan ayahnya menurun padanya. Dia sering lupa kalau dia sedang menanak nasi, terkadang bahkan dia tersesat di hutan karena lupa jalan pulang.
Tapi, setelah berusia 12 tahun, nampaklah kecantikan Arum yang tiada banding. Dia sangat mirip dengan Ibunya. Langsung saja, banyak laki-laki yang datang untuk melihat kecantikan Arum. Banyak diantara mereka yang berusaha mendekati Arum, tapi Jaka selalu melindungi adiknya itu.
Pada suatu siang, Arum dan Sekar sedang mencuci baju di sungai. Tiba-tiba Raja Khayangan datang. Rupanya, kecantikan Arum dan Sekar sudah terdengar sampai ke Khayangan. Raja ingin menjadikan Sekar istrinya, dan Arum anak angkatnya. Tapi, keduanya menolak.
Arum dan Sekar segera lari menuju rumah mereka sambil berteriak minta tolong. Sebelum mencapai rumah mereka, Raja Khayangan sudah menangkap mereka. Mereka lalu dibawa ke Khayangan. Ranu mengejar istri dan putrinya, tapi tidak bisa.
Dia bersedih selama berbulan-bulan. Lalu, pada pagi hari, dia pergi ke sungai. Dia berteriak marah kepada Raja Khayangan. Dia menghina dan memaki Raja dengan penuh benci. Rupanya, dia membuat Sang Raja marah.
Raja Khayangan mengirimkan petir yang sangat dahsyat. Petir itu menyambar tepat pada Ranu. Ranu langsung jatuh kedalam sungai. Jaka yang melihat di balik pepohonan langsung lari, berusaha mengejar ayahnya.
Tapi, ayahnya sudah tak bernyawa, dan arus deras yang dikirimkan Raja Khayangan membawa Ranu pergi dengan cepat. Jaka menangis di pinggir sungai yang deras itu. Meratapi bagaimana jadinya hidupnya tanpa kedua orangtuanya dan adiknya.
Beberapa tahun berlalu, usia Jaka kini 22 tahun. Dia sudah mulai terbiasa hidup sendiri. Setiap pagi dia pergi ke sungai untuk mengenang keluarganya. Pada malam hari, dia bermimpi. Raja Khayangan datang menemuinya.
Dia berkata “Jaka, besok datanglah ke sungai lebih awal. Aku akan mengirimkan 7 anak gadisku. Pilihlah 1 untuk menjadi teman hidupmu. Ambillah selendangnya, dan sembunyikanlah. Tanpa selendang itu, dia takkan pulang. Jangan serakah, pilihlah satu. Anggaplah sebagai penyesalanku karena mengambil keluargamu.”
Keesokan paginya, Jaka menuruti perkataan Raja Khayangan. Meski hujan gerimis, dia tetap datang ke sungai itu. Dia tidak percaya dengan yang dia lihat. 7 gadis yang sangat cantik sedang mandi di pinggiran sungai itu. Selendang mereka diletakkan di batu yang dekat dengan pepohonan agar tidak hanyut terbawa air.
Tidak sulit untuk mengenali siapa-siapa pemilik selendang itu karena mereka memakai pakaian yang sewarna dengan selendang itu.
Jaka sangat bingung untuk memilih. Semua gadis disana sangat cantik.Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk memilih gadis yang memakai pakaian kuning. Rambutnya hitam panjang, matanya juga hitam indah, dan suaranya sangat mempesona.
Dia segera mengambil selendang yang berwana kuning, lalu menyembunyikannya.
Setelah mereka selesai mandi, mereka mengambil selendang mereka untuk pulang. Tapi, gadis dengan pakaian kuning itu tidak bisa pulang karena selendangnya hilang. Saudari-saudarinya membantunya mencari selendang itu. Tapi mereka tidak bisa menemukannya.
Mereka harus segera pulang sebelum ada warga yang melihat mereka. Jadi, terpaksa dia ditinggal sendirian menangis di tepi sungai itu. Setelah beberapa lama, barulah Jaka berani keluar dari persembunyiannya.
Awalnya, gadis itu terlihat snagat ketakutan dengan kehadiran Jaka. Tapi, Jaka yang bersikap sangat baik dan ramah padanya membuatnya mempercayai Jaka. Gadis itu bernama Nawang Wulan.
Dia tinggal bersama dengan Jaka. Para warga keheranan, dan penasaran dari mana Jaka menemukan Nawang Wulan. Tapi setiap ditanya, Jaka hanya tersenyum dan tidak menjawab. Dia bersikap sangat baik pada Nawang Wulan, sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta. Dan mereka menikah. Mereka dikaruniai serorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih.
Tapi, Jaka Tarub mulai merasa ada yang aneh. Gudang tempat dia menyimpan padi seperti tidak pernah berkurang. Gudangnya semakin penuh, padahal dia dan Nawang Wulan tidak pernah makan tanpa nasi. Dia mulai curiga pada istrinya.
Karena penasaran, dia menanyakannya pada Nawang Wulan. “Wulan, bagaimana bisa kau memasak nasi tanpa mengurangi persediaan padi di gudang kita?” Nawang Wulan kelihatan terkejut saat suaminya menanyakan hal itu. “Kau tidak perlu tau mengenai hal itu. Yang penting kita tidak akan kelaparan.” Jawab Nawang Wulan.
Setelah itu, Jaka tidak pernah membicarakan hal itu lagi.
Pada suatu hari, Nawang Wulan meminta Jaka untuk menjaga nasi yang sedang dia masak. Karena dia harus pergi untuk mencuci baju dengan Nawangsih. Tidak lupa Nawang Wulan mengingatkan Jaka untuk tidak membuka tutup penanak nasi itu. Tanpa rasa curiga, Nawang Wulan meninggalkan Jaka dan pergi ke sungai.
Muncullah rasa penasaran dalam hati Jaka. “Kenapa Nawang Wulan melarangku membuka tutup penanak nasi itu?” “Kenapa isi lumbung padiku tidak pernah berkurang?” Dia sangat penasaran dan sangat ingin membuka tutup penanak nasi itu.
“Mungkin mengintip saja tidak apa-apa.” Dia berfikir. Lalu, dia memutuskan untuk mengintip sedikit isi penanak nasi itu. Dan dia sangat terkejut. Hanya ada sebatang padi di dalam penanak nasi itu.
Kemudian hal tidak terduga terjadi. Padi itu menghasilkan nasi yang sangat sangat banyak. Sangat banyak sampai penanak nasi itu penuh dan tumpah. Nasi itu terus bertambah sampai lantai di dapur penuh dengan nasi. Jaka snagat bingung, dia tidak tau bagaimana cara menghentikan nasi itu bertambah.
Saat Nawang Wulan pulang, rumahnya sudah dipenuhi dengan nasi. Segera dia menghentikan nasi yang meluap dari penanak nasi itu. Nawang Wulan sangat marah sekaligus kecewa pada Jaka. Dia sangat sedih karena Jaka tidak menuruti permintaannya.
Karena kecerobohan Jaka, Nawnag Wulan kehilangan kekuatannya. Dia harus memasak nasi seperti manusia biasa. Akibatnya, gudang penyimpanan padi Jaka jadi semakin berkurang dan berkurang.
Pada suatu saat, saat Wulan akan mengambil padi, dia melihat sesuatu. Selendangnya! Rupanya selama ini Jaka menyembunyikan selendangnya di dalam gudang penyimpanan nasi itu.
Wulan langsung mengambil selendangnya, ddan menunjukannya pada Jaka. Jaka tidak bisa berkata apa-apa karena memang dia yang menyembunyikan selendang nawang wulan. Karena selendangnya sudah kembali, Nawang Wulan bisa kembali ke Khayangan.
Dia akhirnya meninggalkan Jaka dan Nawangsih. Karena kecerobohan Jaka, dia tidak dapat lagi menemui istrinya. Tetapi Nawang Wulan akan selalu menjaga Nawangsih. Setiap pelangi muncul, Nawang Wulan akan datang untuk menemui Nawangsih.

Oke, semoga kalian suka :) Mohon maaf kalau banyak typo dan berbagai kesalahan penulisan. Ini Jaka Tarub versi aku sendiri, bukan dari sumber lain. 

Terima Kasih ^-^